The Bystander Effect

sains psikologi kenapa makin banyak orang justru makin sedikit yang menolong

The Bystander Effect
I

Pernahkah kita berjalan di pusat perbelanjaan yang ramai, lalu melihat ada orang tersandung dan jatuh sampai barang bawaannya berserakan? Logika kita pasti bilang, dari ratusan orang di sana, pasti ada setidaknya satu yang langsung berlari membantu. Tapi nyatanya, sering kali orang-orang hanya melirik. Langkah mereka melambat sejenak, lalu mereka berjalan terus seolah tidak terjadi apa-apa. Kenapa bisa begitu? Apakah kita semua pelan-pelan kehilangan empati? Untuk menjawab ini, saya ingin mengajak teman-teman mundur sejenak ke tahun 1964, ke sebuah malam musim dingin di New York. Sebuah peristiwa kelam terjadi pada seorang perempuan bernama Kitty Genovese. Kisah tragisnya di malam itu kelak akan memicu para ilmuwan untuk membongkar sebuah fenomena aneh yang tersembunyi di dalam cara kerja otak manusia.

II

Kasus Kitty Genovese sangat menyayat hati. Ia diserang di dekat apartemennya. Menurut laporan media pada masa itu, puluhan tetangganya mendengar teriakan minta tolong, tapi tidak ada satu pun yang turun tangan atau menelepon polisi tepat waktu. Berita ini seketika bikin gempar seluruh negeri. Media massa dengan cepat menuduh masyarakat perkotaan sudah berubah menjadi robot yang egois dan tak punya hati. Tapi, benarkah sesederhana itu? Dua psikolog bernama John Darley dan Bibb Latané merasa ada yang janggal dengan kesimpulan tersebut. Mereka menolak percaya bahwa puluhan orang itu semuanya mendadak menjadi jahat. Mereka justru curiga pada satu variabel yang luput dari perhatian banyak orang. Darley dan Latané berpikir: bagaimana kalau justru karena ada puluhan orang itulah, maka tidak ada yang menolong? Tunggu dulu. Bukankah sejak kecil kita diajarkan bahwa semakin banyak orang di sekitar kita, kita akan semakin aman? Penasaran dengan paradoks ini, mereka memutuskan untuk membawa misteri kemanusiaan ini ke dalam laboratorium.

III

Untuk membuktikan kecurigaan itu, Darley dan Latané merancang sebuah eksperimen yang cerdik, tapi cukup bikin tegang. Coba bayangkan teman-teman menjadi salah satu relawan mereka. Teman-teman diminta duduk sendirian di sebuah ruangan untuk mengisi kuesioner. Tiba-tiba, asap putih tebal mulai mengepul masuk dari celah ventilasi. Kalau sendirian, pasti kita akan panik, bangkit dari kursi, dan langsung lari keluar untuk melapor, bukan? Hasil eksperimennya pun sesuai prediksi. Sebanyak 75 persen orang yang sendirian langsung bereaksi mencari bantuan. Tapi, apa jadinya kalau eksperimen diulang, dan kali ini teman-teman tidak sendirian di ruangan itu? Ada dua orang lain yang ikut duduk bersama teman-teman. Bedanya, dua orang ini adalah aktor yang sudah diinstruksikan oleh peneliti untuk diam saja dan pura-pura tidak peduli pada asap yang makin pekat. Kira-kira, apa yang akan dilakukan oleh satu-satunya subjek asli di sana? Apakah ia akan tetap berteriak kebakaran, atau justru ikut terdiam di kursinya sambil terbatuk-batuk menahan asap?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang sedikit bikin merinding. Ternyata, saat melihat orang lain diam, sang subjek asli tadi ikut-ikutan diam. Hanya 10 persen dari mereka yang akhirnya keluar melapor. Temuan ini melahirkan konsep psikologi terkenal yang disebut efek pengamat atau the bystander effect. Darley dan Latané membuktikan bahwa ini bukan soal hilangnya empati, melainkan karena otak kita mengalami dua eror kognitif sekaligus saat berada di tengah kerumunan. Eror yang pertama adalah diffusion of responsibility atau difusi tanggung jawab. Saat kita sendirian melihat kecelakaan, 100 persen beban moral untuk menolong ada di pundak kita. Tapi saat ada sepuluh orang yang melihat, otak kita secara otomatis membagi beban itu menjadi masing-masing 10 persen. Kita berpikir, "Ah, pasti sebentar lagi ada orang lain yang menolong." Masalahnya, semua orang di tempat itu memikirkan hal yang persis sama. Eror kedua adalah pluralistic ignorance atau pengabaian jamak. Pada dasarnya, manusia itu makhluk sosial yang selalu mencari contekan cara bersikap dari orang di sekitarnya. Saat ada kejadian darurat yang membingungkan, insting pertama kita adalah melihat ke sekeliling. Kalau orang lain terlihat tenang—padahal di dalam kepala mereka juga sedang bingung—otak kita akan mengambil kesimpulan keliru bahwa keadaan sedang baik-baik saja. Jadi, kita tidak menolong bukan karena kita jahat, tapi karena otak kita kelebihan beban dalam menganalisis reaksi kerumunan dan akhirnya hang.

V

Mengetahui fakta psikologis ini mungkin terasa agak menyesakkan. Membayangkan bahwa kebaikan hati kita bisa dengan mudah disabotase oleh sekumpulan orang asing di sekitar kita sungguh menakutkan. Tapi, tujuan sains menceritakan ini bukanlah untuk memberi kita alasan agar bisa cuci tangan saat ada yang butuh bantuan. Sebaliknya, sains memberi kita kekuatan untuk meretas kelemahan biologis kita sendiri. Sekarang, setelah kita tahu persis bagaimana ilusi bystander effect bekerja, kita punya pilihan sadar untuk memutus rantainya. Jika suatu hari teman-teman berada di jalanan yang ramai dan melihat keadaan darurat, jadilah orang pertama yang melangkah maju. Jangan tunggu orang lain. Gerakan sekecil apa pun dari satu orang akan langsung menghancurkan mantra pluralistic ignorance di kerumunan tersebut, dan membuat orang lain ikut tergerak membantu. Sebaliknya, jika posisi kita yang sedang butuh pertolongan darurat, jangan hanya berteriak "Tolong!" ke arah kerumunan. Tatap mata satu orang secara spesifik, tunjuk dia, dan beri perintah yang jelas. "Hei, bapak yang pakai jaket merah! Tolong telepon ambulans sekarang!" Dengan trik ini, kita mengembalikan 100 persen tanggung jawab ke pundaknya secara instan. Menjadi pahlawan pelindung sesama ternyata tidak selalu butuh kekuatan super. Kadang, kita cuma butuh kesadaran untuk tidak ikut-ikutan diam.